Kamis, 14 Januari 2016

Honda Vario Ngempos

  1. Honda Vario Ngempos.


Salah satu pengalaman pertama yang saya rasakan pada saat menaki  vario techno 125 PGM-FI adalah ilangnya tenaga pada saat kecepatan rendah di awal perjalanan (maklum, sekali jalan biasa nempuh jarak 30 km). Perasaan hilang tenaga ini seperti tenaga tersendat-sendat atau seperti suply bensin telat. Hal ini patut disayangkan karena motor masih sangat baru. Apabila pada saat ngempos dipaksa buka gas lebih dalam maka akan terjadi akselerasi secara tiba-tiba.

Sempat kepikiran apakah karena pengaruh pemakaian bahan bakar yg berbeda?. Tetapi setelah bereksperimen dengan 2 jenis bbm (premium dan pertamax) masalah masih tetap ada  maka bbm sebagai suspect bisa di coret.

Honda Vario Ngempos

Honda Vario Ngempos

Setelah browsing di internet, saya menemukan anjuran 2 anjuran mengganti manipul dengan punya honda vario PGM-FI generasi kedua atau mengganti busi standar vario ke busi yang lebih dingin. Berdasarkan sumber dari agan ini, gejala ngempos ini ditemukan di motor honda vario 125 PGM FI generasi pertama (tahun 2013 kebawah) dan cara yang efektif adalah mengganti manipul honda vario generasi kedua. (honda vario milik penulis adalah honda vario 125 PGM FI generasi pertama)

Harga manipul tersebut lumayan mahal yaitu Rp.250.000 per buah. Detail cara penggantian nya dapat dibaca

Apabila agan-agan berniat mengganti busi standar honda vario berikut detailnya.

   Busi standar vario adalah:
1.  NGK CPR7EA-9
2 . DENSO U22 EPR-9

   Busi yang lebih "dingin" yang dianjurkan adalah:
1.  NGK CPR8EA-9
2 . DENSO U24 EPR-9

   Gambar busi NGK CPR8EA-9



Sedikit berbagi pengetahuan (yang penulis dapatkan di internet juga) cara baca kode busi NGK :

Contoh CPR7EA-9 (Busi standar NGK yang dipakai vario techno 125)

C = adalah diameter ulir (thread size). C=10 mm, D=12mm, B=14mm

P = projected insulator, artinya terdapat tonjolan insulator atau tidak, jika ada maka terdapat kode P

R = Busi dengan resistor didalamnya (untuk mesin dengan teknology digital menggunakan busi type ini untuk menghindari terjadinya frekuensi yg dapat mengganggu pembacaan sensor digital)

7 = heating rate busi atau tingkat pelepasan panas busi. Busi panas memiliki rating 2 – 8. Sedangkan busi dingin (untuk racing) memiliki rating 9 – 12.

E = panjang ulir (thread length). E=19mm dan H=12.7mm

A = menunjukkan fixing end construction atau bentuk ujung lengkungan elektroda

-9 = menunjukkan panjang gap antara elektroda, -9 berarti panjang gap sebesar 0.9 mm

Cara baca busi Denso :

Contoh U22 EPR-9

U : merupakan kode bentuk Elektroda sampingnya “U"

22 : Merupakan kode kolerasi panas Busi,, pada merk Denso angka di mulai dari Angka 9 - 37.. Semakin kecil angka berarti menunjukkan tipe Busi Panas,, dan sebaliknya semakin tinggi angka menunjukan tipe busi dingin.

E : Merupakan kode panjang Ulir / kepala busi (E : 19mm, F : 12,7mm dan L : 11,2mm)

P : tipe bahan Konduktor Busi yang di gunakan (P = Platinum, S = Tembaga/standar)

R : Burn off Resistor (Tipe resistor)

-9 : merupakan angka celah ideal anoda agar busi dapat bekerja Maximal (9 : 0,9mm, 8 : 0,8mm dsb)

Jadi, apabila berdasarkan anjuran diatas dimana busi NGK CPR7EA-9 diganti menjadi CPR8EA-9 maka terjadi peningkatan angka dari 7 menjadi 8 sehingga sifat busi lebih dingin. Untuk busi Denso dimana busi Denso U22 EPR-9 menjadi U24 EPR-9 maka terjadi peningkatan angka dari 22 menjadi 24 sehingga sifat busi juga lebih dingin.

Melengkapi penjelasan busi diatas,  untuk pemilihan busi yang lebih panas atau dingin, khusus daerah bersuhu dingin, seperti daerah pegunungan dan dataran tinggi, paling pas memakai busi panas. Sebab, pemakaian busi dingin akan mempercepat penumpukan kerak. Sedang, daerah panas macam tepi laut atau metropolis, lebih baik memakai busi dingin. Untuk mencegah terjadinya pre ignition atau pembakaran dini.

Karena penulis tinggal didaerah panas (hampir tepi laut dan daerah metropolis) maka anjuran di atas masuk akal dan akan dicoba. Saya akan update artikel ini setelah mengganti ke busi yang lebih dingin dan memperhatikan apakah masih "ngempos" atau tidak motor saya.
  penulis: najib habibi :]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar